0

Pelabuhan di Tanah Air memasuki era baru, di mana banyak mekanisme akan diadopsi dari pelayanan bandara maupun stasiun. Di era digitalisasi ini, pelabuhan seolah tidak mau ketinggalan. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan bahkan sedang menyiapkan regulasi khusus terkait pengembangan pelabuhan di Indonesia.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut kemenhub, Raden Agus H. Purnomo menyebutkan, pihaknya akan segera menyulap pelabuhan-pelabuhan dengan sentuhan digital.

Perubahan dimulai dengan diterapkannya mekanisme cashless atau nontunai saat pembelian tiket. Selain itu, aturan sterilisasi pun akan diterapkan, di mana hanya kru dan penumpang yang memegang tiket yang boleh masuk kawasan pelabuhan. Hal ini seperti yang diterapkan di bandara dan stasiun.

BACA JUGA : BERIKUT 6 PUTRI PALING CANTIK DIDUNIA, SEPERTI CERITA DALAM DONGENG

"Ya seperti di bandara sama di kereta kan yang enggak punya indetitas enggak boleh masuk. Jadi yang punya indentitas baru bisa masuk," kata Agus saat ditemui di Pelabuhan Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Revolusi pelabuhan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Mantan Direktur Utama PT INKA (Persero) ini mengungkapkan saat ini ada 3 pelabuhan yang akan dijadikan percontohan atau pilot project yaitu Pelabuhan Kali Adem, Tanjung Pinang, dan Bau Bau.

Saat ini, sudah ada beberapa pelabuhan yang menerapkan sistem tersebut. Salah satunya yang ada di kota Semarang. "Bisa lihat di Semarang, pelabuhannya sudah pakai boarding pass. Artinya tiketnya udah online, manifest juga online gitu," ujarnya.

Dirjen Agus belum dapat menargetkan kapan seluruh pelabuhan di Tanah Air akan menerapkan hal yang sama. Sebab banyak hal yang harus dipersiapkan mulai dari tenaga kerja, sistem, hingga aplikasi.

"Kalau regulasi enggak terlalu susah yang susah kan ini mendidik masyarakat. Biasanya masuk pelabuhan gampang kan kita mendidik masyarakat, harus pelan-pelan. Ini sedang disiapkan, harapannya Januari 2019 itu sudah trial, dengan sistem sterilisasi itu," ungkapnya

Sementara itu, untuk digitalisasi, Kemenhub sebagai regulator selain menyiapkan perizinan juga siap memfasilitasi dengan software-software yang mendukung.

"Kami menyiapkan digitalisasi softwarenya kami siapkan misalnya e-ticketing kemudian untuk barang packing, barang pakai juga digital semua nanti gitu sehingga nanti harapannya seluruh dokumen manifes orang maupun barang digital seperti kalau di pesawat."

Tidak hanya angkutan penumpang. Pengiriman barang melalui pelabuhan pun akan disentuh oleh digitalisasi. PT Pelindo II (Persero) atau IPC mewujudkannya dengan membangunan New Priok. New priok terdiri dari Container Terminal (CT) 2 dan 3 akan dibuat bersifat digital.

Senior Vice President Operasional PT Pelindo II, David Sirait mengatakan CT2 dan CT3 akan beroperasi 2019 mendatang.

"Sekarang kan baru terminal container (CT) 1, baru mulai sekarang, jadi kita bangun CT 2 dan CT 3. CT 1 sudah jadi, CT 2 dan 3 akan dioperasikan 2019 akhir," kata David.

David mengungkapkan, New Priok akan menjelma menjadi pelabuhan digital kedua se Asia dengan mengusung konsep fully automation. "Itu terminal 2 dan 3 rencananya akan fully automation. Itu nomor 2 di asia dan nomor 1 di Indonesia yang sudah menggunakan terminal fully automation di mana di terminalnya tidak ada 1 orang pun juga, semua menggunakan automation. Crane, pembuka container, PCY, truknya pun tidak pakai orang menggunakan robot," jelasnya.

Meski menggunakan tenaga robot, David menegaskan bahwa tenaga manusia juga masih digunakan. Namun, mereka hanya bekerja di belakang terminal. Diharapkan dengan digitalisasi ini, kecepatan bongkar muat barang di pelabuhan akan meningkat.

BACA JUGA : KARENA DAMPAK DARI PEMBUNUHAN ATAS KHASHOGGI AKHIRNYA KELUARGA BESAR ARAB SAUDI MENOLAK PANGERAN BIN SALMAN MENJADI RAJA

"Kan ini kita lihat dari sisi safety dan kecepatan. Untuk kapal-kapal generasi terakhir, kapalnya itu dia butuh cepat, kapal kecil maupun besar tidak boleh lebih dari 24 jam karena sudah ditunggu di pelabuhan-pelabuhan lain. Sehingga kita harus pakai teknologi yang terakhir, apa saja? Crane yang

Canggih sekali angkat dua, angkat empat, bahkan automation. Pastinya lebih cepat, bongkar muat dengan Crane mencari titik-titiknya sudah ada koordinat yang pas, kalau orang kan masih ada miss, buka sepatu kontainer saja sudah tidak perlu buruh lagi, tapi sudah mesin yang ambil. Karena kapalnya sudah internasional, lokernya sudah internasional," tuturnya.

David mengungkapkan, sistem tersebut baru diterapkan di China. "Jadi terminal petikemas di negara lain semua sudah menuju ke fully automation. Sementra di tempat lain baru semi. Tapi sekarang fully automation sudah dilakukan di Kingdau China baru beroperasi awal tahun ini, kita sekarang mengikuti itu juga," pungkasnya.

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.

 
Top