0


Kepemimpinan di Era 4.0 menjadi tema diangkat dalam Studium Generale ( Kuliah Umum) KU-4078 dengan pembicara Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan Muhammad Aditya Warman. Ia memulai kuliah umum dengan sebuah prolog tentang karakter yang harus dimiliki setiap individu sukses.

“Pintar itu ada batasnya. Bodoh itu tanpa batas,” ungkapnya. Untuk itu, penguasaan ilmu pengetahuan (knowledge) dapat menahan manusia untuk tidak turun sampai tahap bodoh tanpa batas.

1. Generasi Teks vs Visual 



Dia mengatakan menggapai kesuksesan bukanlah perihal "merangkak" dari bawah. Akan tetapi, sukses dapat dirintis dengan cara mengikuti jejak orang-orang yang sudah terlebih dahulu sukses.

"Manusia dapat belajar dari kesuksesan tokoh-tokoh dengan cara meneladani nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan," katanya.

Dari sini, Aditya menekankan pentingnya mengubah perspektif. Aditya memaparkan fakta bahwa 60 persen lebih pekerja di perusahaan-perusahaan multinasional merupakan generasi yang terlahir pada tahun 1995 ke atas. 
Generasi ini bukan merupakan generasi teks selayaknya generasi sebelumnya. Melainkan, generasi pencari kerja yang lebih mudah menerima informasi dalam medium gambar, video, dan story telling daripada tekstual. 

Perubahan ini turut memaksa perusahaan untuk mengadaptasi pendekatan lain agar dapat ‘tersambung’ dengan konsumen. Apalagi dengan adanya disrupsi yang makin marak di dunia pun menjadi masalah tersendiri.

2. Kunci Industri 4.0 



Menurut pria yang sempat mengemban ilmu di Universitas Berkeley, Universitas Harvard, dan Universitas Cambridge ini, industri 4.0 tak hanya semakin memberdayakan teknologi yang ada tetapi secara bersamaan juga mengevolusi para pekerja. 

Perspektif, sistem berpikir, dan koneksi, masing-masing akan terubah sesuai dengan keadaan yang ada. Maka dari itu, ia menilai poin inovasi dan kelincahan (agile) menjadi dua poin utama agar bisa bertahan di industri 4.0. 

Kelincahan dapat ditinjau dari seberapa besar kemampuan kita dalam melakukan multitasking. 

Dalam hal terjadinya disrupsi di era 4.0, maka perlu adanya konektivitas. Ada lima aspek penting di dalamnya yaitu penghargaan yang tinggi, pengaruh yang kuat, emosi yang otentik, terbuka terhadap pemikiran, dan juga kemampuan mendengarkan. 

Keterhubungan dimulai dengan menjadi seseorang yang menjunjung tinggi respek terhadap sesama dengan cara tidak lupa mengucapkan "terimakasih", "tolong", dan "maaf" hingga menjadi orang yang dapat mendengarkan dengan baik.


Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.

 
Top